Foto di atas adalah sagu dan
papeda. Apa itu papeda? Papeda adalah makanan pokok yang terbuat dari sagu. Gambar
sebelah kiri di atas adalah sagu yang di dapat dari olahan pohon sagu, setelah
melalui proses pemerasan dan dipadatkan menjadi sagu padat. Sagu padat tersebut apabila hendak dimakan
harus melalui pengolahan menjadi papeda. Pada tanggal 15 Juni 2014, di kampung Kwerba,
Distrik mamberamo tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua. Pagi hari yang agak
berawan saya dan tim asuhan keluarga sehat berjalan dari tempat menginap kami
menuju rumah terdekat. Rumah tersebut adalah rumah milik keuarga dari salah
satu tokoh masyarakat di kampung tersebut. Setelah meminta ijin, saya berjalan
ke dapur yang berada di dlm rumah dan sebagian di luar rumah, tepatnya di
bagian belakang rumah. Saya melihat kantong besar, yang menurut penuturan mama
adalah sagu. Mama dapatkan sagu tersebut dari hasil tokok sagu di hutan. Tokok sagu
adalah kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan sagu dari hasil
menebang batang sagu, lalu pisahkan sarinya, dan diendapkan hingga menjadi
padat. Sagu yang padat tersebut harus melalui pengolahan lagi untuk dapat
dimakan.
Pengolahan sagu menjadi bentuk
sagu yang bisa dimakan, atau disebut juga “Papeda” yang terdapat di foto
sebelah kanan di atas. Awalnya air bersih haruslah dimasak dahullu hingga
matang/mendidih. Setelah itu tuangkan air ke dalam wadah berisi sagu padat,
lalu diaduk hingga rata, dan sagu berubah agak liat, tambahkan air perasan
jeruk hutan untuk mendapatkan warna sagu yang bersih dan aroma serta rasa yang
lebiih nikmat, aduk terus merata, hingga menjadi bentuk seperti foto di sebelah
kanan. Cara pengolahan tersebut saya dapatkan dari mama yang tinggal di rumah
tersebut.
Papeda merupakan makanan pokok
yang selalu tersedia di rumah warga, selain umbi-umbian seperti ketela pohon
atau singkong, ubi jalar atau batatas, dan pisang hutan. Warga memakan papeda
tersebut dengan sayuran, dan terkadang ikan dari sungai, seperti ikan sembilan,
ikan mujair, bahkan terkadang dengan daging hasil berburu di hutan, seperti
daging babi, daging kasuari, dan daging kanguru kecil atau “lau-lau”.
Diversifikasi makanan pokok di
daerah tersebut sudah baik, karena masyarakat dapat memanfaatkan produk pangan
lokal dengan baik, tanpa harus bergantung terhadap pasokan beras dari luar
daerah, mengingat kampung ini berada di tengah hutan, yang mengharuskan kami
untuk berjalan selama 1 jam untuk mencapai kampung tersebut dari pelabuhan/pinggiran
sungai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar