Minggu, 06 Juli 2014

Papeda



Foto di atas adalah sagu dan papeda. Apa itu papeda? Papeda adalah makanan pokok yang terbuat dari sagu. Gambar sebelah kiri di atas adalah sagu yang di dapat dari olahan pohon sagu, setelah melalui proses pemerasan dan dipadatkan menjadi sagu padat.  Sagu padat tersebut apabila hendak dimakan harus melalui pengolahan menjadi papeda. Pada tanggal 15 Juni 2014, di kampung Kwerba, Distrik mamberamo tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua. Pagi hari yang agak berawan saya dan tim asuhan keluarga sehat berjalan dari tempat menginap kami menuju rumah terdekat. Rumah tersebut adalah rumah milik keuarga dari salah satu tokoh masyarakat di kampung tersebut. Setelah meminta ijin, saya berjalan ke dapur yang berada di dlm rumah dan sebagian di luar rumah, tepatnya di bagian belakang rumah. Saya melihat kantong besar, yang menurut penuturan mama adalah sagu. Mama dapatkan sagu tersebut dari hasil tokok sagu di hutan. Tokok sagu adalah kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan sagu dari hasil menebang batang sagu, lalu pisahkan sarinya, dan diendapkan hingga menjadi padat. Sagu yang padat tersebut harus melalui pengolahan lagi untuk dapat dimakan.
Pengolahan sagu menjadi bentuk sagu yang bisa dimakan, atau disebut juga “Papeda” yang terdapat di foto sebelah kanan di atas. Awalnya air bersih haruslah dimasak dahullu hingga matang/mendidih. Setelah itu tuangkan air ke dalam wadah berisi sagu padat, lalu diaduk hingga rata, dan sagu berubah agak liat, tambahkan air perasan jeruk hutan untuk mendapatkan warna sagu yang bersih dan aroma serta rasa yang lebiih nikmat, aduk terus merata, hingga menjadi bentuk seperti foto di sebelah kanan. Cara pengolahan tersebut saya dapatkan dari mama yang tinggal di rumah tersebut.
Papeda merupakan makanan pokok yang selalu tersedia di rumah warga, selain umbi-umbian seperti ketela pohon atau singkong, ubi jalar atau batatas, dan pisang hutan. Warga memakan papeda tersebut dengan sayuran, dan terkadang ikan dari sungai, seperti ikan sembilan, ikan mujair, bahkan terkadang dengan daging hasil berburu di hutan, seperti daging babi, daging kasuari, dan daging kanguru kecil atau “lau-lau”.

Diversifikasi makanan pokok di daerah tersebut sudah baik, karena masyarakat dapat memanfaatkan produk pangan lokal dengan baik, tanpa harus bergantung terhadap pasokan beras dari luar daerah, mengingat kampung ini berada di tengah hutan, yang mengharuskan kami untuk berjalan selama 1 jam untuk mencapai kampung tersebut dari pelabuhan/pinggiran sungai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar