Rabu, 23 Juli 2014

Dimandikan Ibu | 18 Juli 2014,12.05


Foto oleh Linda Setiyowati



KASONAWEJA__Foto ini diambil saat petugas tenaga kesehatan melakukan pendataan dan pemeriksaan fisik pada keluarga S. Terlihat sepintas seorang wanita yang merupakan istri dari keluarga S berjalan dengan menggendong anaknya menuju area belakang rumah. Area belakang rumah terdapat sebuah tong besar sebagai penampung air yang dimana air tersebut di dapat dari air hujan. Air hujan yang biasa digunakan oleh keluarga S, untuk kebutuhan air dalam rumahnya. Salah satu fungsi penampungan air yaitu digunakan untuk kegiatan mandi.

Siang itu seorang ibu sedang membantu anaknya membersihkan diri dengan menggunakan peralatan mandi seadanya. Peralatan mandinya hanya berupa sabun batang dan sikat gigi untuk ukuran orang dewasa, serta handuk besar yang ibu gantungkan pada sisi dinding kayu rumahnya. Sisi kepedulian ibu terhadap kebersihan anaknya masih terlihat. 

Ibu mulai mengambil air dengan gayung yang sudah tersedia didalam tong. Kemudian perlahan-lahan ibu membasuh tubuh anaknya di setiap bagian tubuhnya. Perlahan-lahan pada bagian tubuh anaknya di basuh dengan menggunakan sabun. Sabun yang digunakan, biasa di gunakan oleh keluarga S yang tinggal bersama si ibu dan anaknya. Setelah semua bagian sisi-sisi tubuh terkena sabun, maka ibu mulai membasuh bagian sisi tubunhnya dengan air. Berkali-kali mengguyurkan anaknya secara perlahan pada sisi tubuh yang masih melekat dengan sabun. 

Menurutnya setelah anak di mandikan, anaknya akan terlihat lebih bersih dan segar. Kemudian si anak di bantu mengajarkan cara menggunakan sikat gigi. Dan dilanjutkan untuk di keringkan dengan handuk. "Anak ini senang sekali bermain seharian, badan kotor semua. Kalau begini kan jadi lebih bersih", tambahnya.

Gelanggang Bermain Bernama "Sungai" |12.30





Foto oleh Linda Setiyowati


SUNGAI MAMBERAMO___Perjalanan siang itu sangat begitu melelahkan. Rasa haus yang dirasakan oleh tenaga kesehatan yang sedang melakukan pendataan terhadap warga setempat. Saat itu pendataan sedang di lakukan pada rumah-rumah warga didaerah pinggiran sungai. Hamparan sungai bercampur lumpur membuat warna yang tampak begitu keruh dan gelap. Terik panas yang memancar membuat kulit seperti terbakar, sehingga yang dirasa adalah menusuk bawah kulit.

Tawa canda anak-anak terdengar sangat jelas. Suara melengking itu di dapat pada area hantaran pinggiran sungai. Ternyata “sungai tidak hanya sebagai jalur transportasi, di sini sungai menjadi pendamping. Anak-anak banyak menghabiskan waktunya di tepi sungai, bermain”. Mereka bersama-sama bermandikan air pinggiran sungai sambil bermain-main dengan lumpur. 

Sangat jelas air itu sangat keruh dan kurang bersih. Tetapi hal yang mereka lakukan sudah menjadi kebiasaan hidup bagi mereka. Keseruan bagi mereka membuat mereka lupa akan hal sehat. Air yang tidak bersih dapat menyebabkan banyak hal pada penyakit, salah satunya adalah penyakit kulit. 

Kegiatan mereka pun tidak didampingi oleh orangtuanya. Anak-anak disana seperti aman-aman saja. Mereka melakukan kegiatan bermain di pinggir sungai, karena mereka kegerahan dengan kondisi cuaca yang begitu terik. Mereka akan melakukannya kembali disaat mereka kegerahan. Peralatan yang mereka gunakan adalah lumpur. Sama sekali mereka tidak menggunakan peralatan mandi seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi, sampo, dan sebagainya.

Minggu, 20 Juli 2014

Jakarta Kelebihan Air (Banjir) Diliput, Kami Kekurangan Air Luput


foto oleh Linda Setiyowati
KASONAWEJA, __ Di sebuah desa di Mamberamo Tengah memberikan pemandangan menarik tentang kegiatan sehari-hari orang disana. Sebuah kampung berisikan jumlah penduduk yang tidak banyak namun cukup mewakili gambaran sebagian besar penduduk di Kasonaweja. Rumah semi panggung dengan bahan dari kayu kelapa menjadi tempat tinggal sebagian besar penduduk di sini.

Adalah R yang merupakan salah satu warga yang sudah menetap lama di Kasonaweja. Dia tinggal di rumah kayu yang disekat dengan triplex bersama suami dan seorang adik kandungnya. Suami R tidak ada di tempat ketika rombongan dari tenaga kesehatan melakukan pendataan di daerahnya karena harus pergi ke kota yang ada di bagian lain dari sungai yang ada di Kasonaweja. Pemukiman penduduk di Membramo terpisahkan dan dibangun di tepi-tepi sungai sehingga kapal/perahu motor merupakan transportasi paling efektif dan sering digunakan oleh masyarakat untuk beraktifitas.                                                      
untuk mendapatkan air saya harus menuruni anak tangga di belakang rumah. Demi menjaga kebersihan diri, saya melakukan ini setiap hari
Tidak seperti tempat pemukiman pada biasanya yang sudah tersentuh pemerataan pembangunan pemerintah, rumah di sini tidak teraliri air. Untuk mendapatkan air penduduk harus mengambilnya di tempat penampungan air sederhana seukuran drum minyak yang airnya didapat dari pipa panjang yang tertanam di dinding tebing. Tempat penampungan tersebut terletak di belakang rumah mereka yang dapat diakses melalui jalan setapak dan tangga kecil tanpa penerangan. Dengan debit air yang kecil dari pipa tersebut, penduduk hanya bisa menggunakan seadanya untuk kebutuhannya sehari-hari.

“Untuk mendapatkan air, saya harus menuruni anak tangga di belakang rumah dan mengambilnya di bak air. Demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari termasuk untuk kebersihan diri saya melakukan ini setiap hari”, ujar R ketika ditanyakan seputar kegiatannyakala itu.

Kebutuhan air dibawa menggunakan ember dari penampungan air ke rumah setiap hari. Air yang biasa dibawa digunakan untuk dikonsumsi, untuk kegiatan lain seperti mandi, menggosok gigi biasanya R langsung melakukannya di dekat penampungan air tersebut.

Bagi sebagian besar penduduk Kasonaweja hal ini merupakan sebuah keseharian yang musti dilakukan demi memenuhi kebutuhan akan air. Masyarakat tetap berusaha memenuhi kebutuhan mereka di tengah keterbatasan akses mereka terhadap pembangunan. Air merupakan hal vital yang diperlukan seluruh makhluk hidup. Sudah saatnya pemerintah memikirkan cara agar R dan warga lain yang bernasib serupa ikut merasakan ketersediaan air bersih demi memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. (LS)

Senin, 14 Juli 2014

Pisang, Si Kuning yang Mengenyangkan

"Menurut Bapak, PISANG adalah salah satu sumber MAKANAN POKOK yang dapat menggantikan posisi PAPEDA dan singkong saat kedua bahan makanan tersebut sedang tidak tersedia di rumah."

Siang hari, di Kampung Marinavalen, Distrik Mamberamo Tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, saya bertemu bapak yang mendiami satu rumah di samping pohon jeruk hutan. Bapak itu tinggal bersama istri dan 2 anaknya, dan 1 orang cucu. Menantu bapak tersebut bekerja di kota kabupaten yang terletak 40 km dari kampung tersebut melalui jalur sungai, menggunakan speed boat. Jarak tersebut termasuk sangat jauh menurut bapak itu, bila harus melakukan perjalanan ke kota hanya untuk menjual hasil hutan, dan membeli beberapa keperluan di rumah maka bapak akan berangkat pagi, dan baru esok paginya akan tiba kembali di rumah.
Foto ini diambil pukul 2 siang waktu setempat,
Kampung Marinavalen, Distrik Mamberamo Tengah,
Kabupaten Mamberamo Raya

Saya melakukan tugas saya di rumah tersebut sebagai salah satu bagian tim yaitu koordinator kuesioner, yang berarti saya harus mengisi lengkap kuesioner sejumlah orang yang tinggal di rumah saat wawancara berlangsung. Bapak menjelaskan bahwa makanan yang mereka makan adalah hasil dari kebun bapak di hutan. Sagu adalah komoditas utama yang di dapat dari hutan, bapak dan keluarga memanfaatkannya untuk makan setiap hari, tapi ada satu hal yang menemani makan sagu, yaitu pisang.

Istri dari bapak memberikan saya pisang yang biasa dimakan setiap hari, kebetulan saat saya berkunjung ke rumah, mama sedang merebus pisang, dan karena sudah matang, mamak mengambilkan pisang tersebut buat saya. Pisang yang terdapat di daerah ini memiliki penampakan yang mirip dengan di daerah lain, yang membedakannya adalah tekstur, dan kepadatannya. “itu pisang ambon, tong makang deng papeda” sahut bapak menjelaskan. Saat menggigit pisang itu terasa padat sekali untuk ukuran pisang, rasanya hambar, tidak semanis buah pisang yang biasa saya makan.


Menurut bapak, pisang adalah salah satu sumber makanan pokok yang dapat menggantikan posisi papeda dan singkong saat kedua bahan makanan tersebut sedang tidak tersedia di rumah. Pisang dapat dinikmati langsung apabila pisang tersebut telah berwarna kuning dan agak empuk, tetapi pisang yang di ambil di hutan yang dimakan sebagai makanan pokok adalah pisang yang berwarna hijau. Pisang harus direbus terlebih dahulu untuk menghilangkan getahnya. Daun singkong, daun gedi, daging lau-lau, daging babi, bahkan ikan dari sungai dapat menemani pisang yang hijau tersebut. Tiga utama jenis bahan makanan yang tergolong makanan pokok adalah sagu (papeda), singkong (ketela pohon), dan pisang. (ERI)

Minggu, 06 Juli 2014

Mama, Tidak Ada Tempat Sampah


Foto ini diambil disalah satu halaman rumah di alang-alang, kampung kasonweja. Sebelum menanyakan hal ini kepada mama (pemilik rumah). saya menyempatkan diri melihat belakang rumah yang kurang lebih sama kondisinya, terdapat tumpukan sampah rumah tangga seperti botol plastik, kemasan/bungkus produk , dan sampah dapur, sisa rempah dan buah.
Saya menanyakan beberapa hal kepada mama. "Mama, tidak ada tempat sampah kah?". Tidak ada.  Jadi "Mama, sampahnya dibuang kemana? " Sampahnya ditumpuk lalu dibakar, kadang juga dibuang ke selokan", Jawab Mama.
Diantara sampah yang terdapat disekitar rumah mama dan sekitarnya, sampah plastik nampak mencolok berserakan dimana-mana, bersembunyi dibalik rerumputan hingga selokan.
Tidak adanya pewadahan sampah rumah tangga adalah salah satu faktor  penyebab perilaku membuang sampah disembarang tempat belum menjadi perhatian serius masyarakat setempat.

*mama; sebutan ibu di papua



Papeda



Foto di atas adalah sagu dan papeda. Apa itu papeda? Papeda adalah makanan pokok yang terbuat dari sagu. Gambar sebelah kiri di atas adalah sagu yang di dapat dari olahan pohon sagu, setelah melalui proses pemerasan dan dipadatkan menjadi sagu padat.  Sagu padat tersebut apabila hendak dimakan harus melalui pengolahan menjadi papeda. Pada tanggal 15 Juni 2014, di kampung Kwerba, Distrik mamberamo tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua. Pagi hari yang agak berawan saya dan tim asuhan keluarga sehat berjalan dari tempat menginap kami menuju rumah terdekat. Rumah tersebut adalah rumah milik keuarga dari salah satu tokoh masyarakat di kampung tersebut. Setelah meminta ijin, saya berjalan ke dapur yang berada di dlm rumah dan sebagian di luar rumah, tepatnya di bagian belakang rumah. Saya melihat kantong besar, yang menurut penuturan mama adalah sagu. Mama dapatkan sagu tersebut dari hasil tokok sagu di hutan. Tokok sagu adalah kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan sagu dari hasil menebang batang sagu, lalu pisahkan sarinya, dan diendapkan hingga menjadi padat. Sagu yang padat tersebut harus melalui pengolahan lagi untuk dapat dimakan.
Pengolahan sagu menjadi bentuk sagu yang bisa dimakan, atau disebut juga “Papeda” yang terdapat di foto sebelah kanan di atas. Awalnya air bersih haruslah dimasak dahullu hingga matang/mendidih. Setelah itu tuangkan air ke dalam wadah berisi sagu padat, lalu diaduk hingga rata, dan sagu berubah agak liat, tambahkan air perasan jeruk hutan untuk mendapatkan warna sagu yang bersih dan aroma serta rasa yang lebiih nikmat, aduk terus merata, hingga menjadi bentuk seperti foto di sebelah kanan. Cara pengolahan tersebut saya dapatkan dari mama yang tinggal di rumah tersebut.
Papeda merupakan makanan pokok yang selalu tersedia di rumah warga, selain umbi-umbian seperti ketela pohon atau singkong, ubi jalar atau batatas, dan pisang hutan. Warga memakan papeda tersebut dengan sayuran, dan terkadang ikan dari sungai, seperti ikan sembilan, ikan mujair, bahkan terkadang dengan daging hasil berburu di hutan, seperti daging babi, daging kasuari, dan daging kanguru kecil atau “lau-lau”.

Diversifikasi makanan pokok di daerah tersebut sudah baik, karena masyarakat dapat memanfaatkan produk pangan lokal dengan baik, tanpa harus bergantung terhadap pasokan beras dari luar daerah, mengingat kampung ini berada di tengah hutan, yang mengharuskan kami untuk berjalan selama 1 jam untuk mencapai kampung tersebut dari pelabuhan/pinggiran sungai.

Dapur Bersih, Tersedia Makanan Sehat



Foto ini adalah bentuk dapur terpisah dari rumah, foto ini diambil di salah satu rumah warga di daerah Kwerba, Mamberamo Tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua pada tanggal 17 Juni 2014. Di siang hari yang terik saya dan tim bergerak menuju rumah-rumah warga untuk melakukan pengobatan secara door-to-door, setelah melakukan pengukuran antropometri terhadap anggota keluarga saya berbincang-bincang dengan mama pemilik rumah tersebut. Saya menanyakan tentang lokasi dapur, mama menunjukkan langsung dapurnya. Saya berjalan mengikuti mama melewati 2 kamar tidur dan meja makan, sekilas saya melirik di meja makan tidak tersedia makanan, hanya meja dan beberapa gelas terbalik. Saat melihat dapur, saya merasa miris sekali, dapur mama jauh dari kata bersih, dan rapi.
Bahan bakar untuk memasak yang digunakan adalah kayu bakar yang mama cari sendiri di hutan, dan untuk memasak, mama menggunakan tungku, dan di sekitar lokasi memasak itu ada hewan yang berkeliaran, ada beberapa anjing yang kotor.

Dapur, adalah salah satu lokasi yang seharusnya bersih, dan aman karena merupakan tempat yang digunakan untuk mengolah makanan untuk keluarga. Dapur yang bersih akan menghasilkan makanan yang bersih, sehat, dan aman dari kontaminasi. Alangkah baiknya bila mama dapat menggunakan kompor, atau perapian yang berada di dalam rumah, dan bersih, sehingga mama dapat menyajikan makanan yang sehat dan aman.

Air, Zat Gizi Penting bagi Manusia.



Gambar ini diambil di daerah Alang-alang, Distrik Mamberamo Tengah, Kasonaweja, Kabupaten Mamberamo Raya. Gambar ini diambil pada tanggal 11 Juni 2014, berkisar jam 9 pagi waktu setempat, di rumah warga di pemukiman yang telah disediakan oleh pemerintah yang telah dihuni oleh keluarga penduduk asli daerah tersebut.
Saat pengambilan gambar tersebut saya telah meminta ijin kepada kepala rumah tangga serta ibu yang bertindak sebagai tenaga pengolah makanan di rumah tersebut. “Mama” sebutan untuk wanita yang telah dewasa, tetapi pengucapannya adalah “mamak”. Mama menceritakan bagaimana saat mama menyediakan air untuk minum di rumah tersebut. Air yang mama gunakan adalah air yang berasal dari tandon penampung air hujan yang terdapat di depan rumah. Apabila tandon itu kosong, dan hujan tidak kunjung datang, maka mama menggunakan air sungai yang dibawa oleh mobil tangki keliling yang mengangkut air untuk dijual kepada masyarakat. Air tersebut dimasak terlebih dahulu hingga mendidih. Mereka menggunakan tungku untuk memasak, dengan bahan bakar kayu bakar. Setelah air tersebut matang barulah dipindahkan ke dalam tempat penyimpanan air, dimana mereka menggunakan toples plastik besar untuk menyimpannya. Toples itu tertutup, dan saat akan menggunakan air di dalamnya, mereka menggunakan gayung kecil.
Air sebagai salah satu zat gizi yang diperlukan tubuh, wajib tersedia setiap saat. Air hujan dan air sungai pun dapat layak diminum, asalkan dimasak terlebih dahulu.

Air Kehidupan Kami



Air bersih untuk minum merupakan masalah utama didaerah ini. Sumber air bersih sangat jarang ditemukan. Air sungai mamberamo yang berada disekitar pemukiman masyarakaat tidak dapat dimanfaatkan karena kualitas air yang berbau berwarna coklat dan berlumpur.
Salah satu sumber air yang digunakan masyarakat namunaweja adalah air kanal yang ditampung dalam bak (gambar). Aliran sumber air ini mengalir secara perlahan dan lambat. Bagian hulu dan sekitarnya terdapat beberapa pohon sagu dan rerumputan tumbuh liar. Kualitas air yang tertampung dalam bak, agak bau tapi jernih. Karena terjadi pengendapan kotoran dibak tersebut.
Bagi masyarakat namunaweja, air kanal ini merupakan sumber vital karena satu-satunya sumber air minum rumah tangga. Terutama jika terjadi kekosongan pada bak penampungan air hujan. Jarak rumah terdekat dari perkampungan namuneja sekitar 90-100meter. Ibu-ibu rumah tangga umumnya menggunakan jeregen dua (2) liter untuk mengangkut air tersebut.
Adapun lokasi pengambilan gambar, saya temukan disisi kiri jalan , saat keluar dari kampung menuju dermaga, tempat singgah speedboat/perahu mesin. Satun-satunya transportasi yang dapat digunakan untuk menyebarangi perkampungan ini.